Duduk di depan Warnet yang berada di pinggir jalan raya membuat aku tak sadarkan diri tentang apa yang sedang ku lakukan disana. Kulihat orang-orang berbondong-bondong menuju sebuah kepuasan batin yang tak terkira. Tapi aku hanya bisa termenung disini. Perasaan orang-orang itu tak dapat kurasakan layaknya seekor katak dalam tempurung. Sebuah kenangan terukir kembali dalam memori-ku yang kira-kira hanya 5GB ini. Disaat aku melayang dalam imaji-ku, tiba-tiba datang sesosok yang begitu tak asing lagi bagiku. Seorang yang baru saja terlihat kembali setelah hampir 4 tahun menghilang dari dunia yang fana ini. Ya,teman lama yang begitu nyentrik dan tiada duanya. Tham. Dia adalah teman dari sekian banyak nama yang aku kenal. Lalu kami berbincang-bincang dengan topik yang beraneka ragam. Dari cerita masa lalu hingga masalah politik yang sedang hangat-hangatnya.
Tak lama setelah itu, kami masuk ke Warnet yang sudah beberapa jam ini aku belakangi sambil sesekali curi-curi pandang. Ternyata didalam penuh sesak + bau tak sedap ala rokok 234 buatan orang Kediri, tapi karena ada sebuah tugas yang cukup penting bagi masa depanku yang harus kuraih, akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan waktu 1 jam disana. Maklumlah,sebagai anak kost, aku harus bisa me-manage uang. Tak lama setelah keluar dari Basecamp hi-tech itu, MR.P, teman satu perjuanganku datang dengan mimik yang cukup berseri dengan mata berbinar-binar. Ya hari ini dia baru saja ngobrol dan foto bareng dengan bule dari Belanda dan Amerika. Dia menunjukkan hasil kerjanya di siang tadi dengan sombongnya. Its amazing man…….
Nadiku berdetak kencang, darahku berpacu lebih kencang dari sebelumnya. Dalam hati aku bergumam, “Kapan aku bisa melakukan hal se-ajaib ini?” Hanya aku yang bisa menjawabnya. Dan itu pasti akan ku lakukan dengan lebih ajaib lagi.
Waktu terus berlalu, beberapa jam telah kami lalui dan waktu telah menunjukkan tepat tengah malam. Di tengah malam sedingin ini,angin malam masuk kedalam tubuh kami hingga menembus ke tulang sum-sum dengan keperkasaannya , akhirnya kami memutuskan untuk pergi dari tempat yang cukup strategis ini dengan berat hati dimana kami bisa melihat orang berlalu lalang disini. Lalu, ditengah kebingungan yang sedang melanda kami, akhirnya kami memutuskan untuk mencari suatu hal yang sudah lama tidak pernah kami lakukan selama ini. Ya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dengan melawati jalanan sepi dimana tidak ada seorangpun yang terlihat dan melakukan aktivitas. Hanya terdengar suara burung hantu yang terdengar tak terlalu merdu malam itu. Mungkin bagi kalangan orang penakut, itu merupakan sebuah pertanda bahwa ada makhluk lain yang sedang berada di dekat kita. Ya, memang tak bisa dipungkiri bahwa pada malam itu, kami merasakan bahwa ada sesosok bayangan yang sedang memperhatikan langkah kami sejak tadi, tapi kami hanya beranggapan itu hanya sebuah halusinasi yang tidak penting dan kami tak peduli dengan hal-hal seperti itu.
Ternyata perjalanan ini cukup melelahkan juga. Ya, belasan kilometer telah kami injak , beribu-ribu pohon telah kami kunjungi, belasan pagar kami panjat dan beberapa jembatan kami sebrangi tapi kami belum menemukan tempat tujuan kami. Tapi ada sesuatu yang sangat menarik. Tepat arah jam 3 kami melihat sebuah cahaya dari kejauhan, apakah itu tempat yang kami cari, gumamku dalam hati. Dan hasilnya??? Salah besar, itu hanyalah sebuah pangkalan ojek yang terlihat seperti gubuk tua yang banyak digunakan pada masa zaman penjajahan dulu. Dengan sedikit rasa kecewa, kami melanjutkan pencarian kami. Tanpa kusadari, ternyata dunia malam itu sangatlah indah. Keindahan kota terpancar melalui bantuan cahaya bulan, selain itu, keadaannya sangat sunyi dan tenang, kita juga bisa menghirup udara segar walaupun harus bertarung dengan pohon-pohon yang berada di sekitar kita. Tapi, sungguh, benar – benar sangat luar biasa. Disela kekaguman kami, tiba-tiba kami terhenti oleh seseorang yang sangat menarik. Kami melihat sesosok yang cukup familiar dikalangan masyarakat. Tubuhnya tinggi, dengan muka yang tidak rata, rambutnya gondrong dan selalu tertawa, tapi mukanya pusat pasi dan lusuh, karena harus berkeliaran di setiap malam yang Insaya Allah dingin tak terkira. Dia adalah hansip komplek yang selalu ceria dan selalu bangga dengan seragam hijau yang selalu ia kenakan pada setiap malam . Walaupun itu baju adalah warisan dari kakenya. Sempat terhenti oleh sosok tadi, lalu kami melanjutkan perjalanan kami.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 2 setengah jam, akhirnya, kami sampai juga di tempat tujuan. Sebuah tempat yang ternyata sudah hampir 6 tahun tak pernah ku kunjungi lagi. Dan ditempat ini, semua kenangan kumuntahkan melalui otak yang tak pernah kugunakan dengan maksimal ini. Kami bernostalgia kembali dengan sedikit jokes-jokes kami, jokes terbaru tentunya, karangan dari seorang ahli analisis di bidangnya. Setelah perang jokes, satu persatu kami tewas dan pergi menuju alam mimpi……..
Dan cerita ini pun berakhir sampai disini……….tapi mungkin esok aku akan mengalami hal-hal yang lebih dari malam ini……………dan jiwa petualang ku terus tumbuh sampai hal ini bisa menghentikan langkahku..


